“Lombok (cabai) adalah salah satu komoditas pemicu inflasi. Alhamdulillah, dua tahun terakhir inflasi Bulukumba tetap terkendali. GEMOIH menjadi bukti bahwa masyarakat mampu berinovasi untuk menjaga ketersediaan pangan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa gerakan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga membangun budaya produktif di masyarakat.
“Kita ingin memotivasi masyarakat agar lahan kosong dimanfaatkan. Jangan karena gengsi atau kuttu (malas), tanah terbengkalai begitu saja. Dengan menanam lombok dan sayuran, lahan bisa produktif, menghasilkan nilai ekonomi, sekaligus menciptakan ruang terbuka hijau,” tambahnya.
Program GEMOIH juga membuka peluang kerjasama antara pemerintah desa, OPD, dan penyuluh pertanian untuk mendampingi masyarakat dalam menanam hingga merawat tanaman agar panen lebih maksimal.
Dari 196 inovasi publik yang telah dikembangkan di Bulukumba, tiga di antaranya lolos ke tingkat internasional pada COPSI Award 2025, yaitu GEMOIH (TP PKK), VR Tourism (Disparpora), dan LORONG CETING (Bapperida). Ketiga tim penggagas dijadwalkan akan mempresentasikan inovasinya secara daring pada 26 Agustus 2025.***






