KLIKBUKA.COM, BULUKMBA.–Di bawah terik matahari yang membakar langit Bulukumba, Lingkungan Butung, Kelurahan Bontokamase, Kecamatan Herlang, menjadi saksi pertemuan yang jauh dari sekadar formalitas. Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba dari Dapil 4 Kajang-Herlang, Kaspul Beje, atau yang akrab disapa “Kaspul,” menggelar reses masa persidangan III tahun 2025. Acara ini bukan hanya temu konstituen biasa, melainkan panggung di mana warga memekikkan keresahan mereka akan ancaman tanah longsor dan abrasi yang kian menggerus harapan.
Kaspul tiba dengan langkah mantap, disambut warga yang wajahnya penuh harap bercampur resah. Ketua LPM Kelurahan Bontokamase, mewakili Lurah, membuka diskusi dengan nada tegas. “Penanganan bencana harus segera dituntaskan,” katanya. “Herlang, khususnya Bontokamase dan Tanuntung, terus diterpa tanah longsor dan abrasi. Akses jalan terputus, hidup warga terhenti.” Kalimat itu seperti pisau, tajam dan menusuk, menggambarkan luka nyata yang dirasakan warga pesisir.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memperkuat keprihatinan ini. Wilayah pesisir Herlang termasuk dalam zona rawan bencana dengan tingkat kerentanan tinggi, dipicu curah hujan ekstrem dan topografi curam. Sejak 2023, tiga insiden longsor besar telah merusak puluhan rumah dan memutus jalur utama. Abrasi, yang menggerogoti garis pantai hingga puluhan meter dalam satu dekade, mengancam pemukiman warga. Namun, solusi dari pemerintah daerah masih terasa seperti fatamorgana.
Kaspul, mendengarkan dengan saksama. Buku catatan kecilnya penuh coretan keluhan warga, dari nelayan yang kehilangan lahan hingga ibu rumah tangga yang rumahnya nyaris ambruk. “Saya berdiri di sini sebagai anak Herlang,” ujarnya, suaranya hangat namun tegas. Ia menjanjikan untuk mengawal isu ini ke tingkat kabupaten dan provinsi, mendorong anggaran untuk tanggul pantai dan stabilisasi lereng. “Kita butuh solusi cepat dan jangka panjang,” tegasnya.
Namun, warga tak mudah terbuai. “Kami butuh jalan yang aman, kami butuh pantai kami kembali,” seru seorang ibu dengan mata berkaca-kaca. Kaspul mengangguk, mencatat, tapi di balik gestur itu, ada beban berat: kepercayaan warga yang mulai rapuh akibat janji-janji yang tak kunjung terealisasi.
Reses ini berakhir dengan daftar panjang aspirasi di tangan Kaspul dan secercah harapan di hati warga. Namun, skeptisisme masih mengintai. Saat matahari tenggelam di garis pantai yang kian menyusut, pertanyaan besar menggantung: akankah suara warga Bontokamase didengar, atau hanya menjadi catatan yang terkubur di gedung DPRD? Hanya waktu, dan tindakan nyata, yang akan menjawab.(*)






